Ntar malam dah solat tarawih, tapi tau gak dasarnya solat tarawih dan hukum – hukum solat tarawih. Nah dibawah ini adalah beberapa penjelasan yang saya ambil dari blognya ishoba. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua yang membacanya. Selamat menunaikan ibadah puasa dan sholat sunnah tarawih ya…
Menghidupkan malam-malam bulan Ramadlan dengan berbagai macam ibadah adalah perkara yang sangat dianjurkan. Di antaranya adalah shalat tarawih. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah mengerjakannya di masjid dan diikuti para shahabat beliau di belakang beliau. Tatkala sudah terlalu banyak orang yang mengikuti shalat tersebut di belakang beliau, beliau masuk ke rumahnya dan tidak mengerjakannya di masjid. Hal tersebut beliau lakukan karena khawatir shalat tarawih diwajibkan atas mereka karena pada masa itu wahyu masih turun.
Diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam selalu memberi semangat untuk menghidupkan (shalat/ibadah) bulan Ramadlan tanpa mewajibkannya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barangsiapa menghidupkan bulan Ramadlan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat dalam keadaan meninggalkan shalat tarawih berjamaah. Hal ini berlangsung sampai kekhilafahan Abu Bakr serta pada awal kekhilafahan Umar radhiallahu ‘anhu.” (HR. Bukhari 1/499. Muslim 2/177. Malik 1/113/2. Abu Dawud 1371. An Nasa’i 1/308. At Tirmidzi 1/153. Ad Darimi 2/26. Ibnu Majah 1326. Ahmad 2/281, 289, 408, 423. Adapun lafadh hadits yang kedua adalah tambahan pada riwayat Muslim, Abu Dawud, dan At Tirmidzi. Lihat Al Irwa’ juz 4 halaman 14)
Juga hadits ‘Amr bin Murah Al Juhani, beliau berkata :
Seseorang dari Qadlafah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian berkata : “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, aku shalat yang lima, puasa di bulan Ramadlan, menghidupkan Ramadlan, dan membayar zakat?” Maka jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa mati atas yang demikian, maka dia termasuk orang-orang yang shidiq dan syahid.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya dengan sanad yang shahih. Lihat tahqiq Syaikh Albani terhadap Shahih Ibnu Khuzaimah 3/340/2262 dan Shahih At Targhib 1/419/993)
Kedua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan menghidupkan malam bulan Ramadlan dengan berbagai ibadah di antaranya shalat tarawih berjamaah.
Shalat Tarawih Berjamaah
Tidak diragukan lagi bahwa shalat tarawih dengan berjamaah pada bulan Ramadlan sangat dianjurkan. Hal ini diketahui dari beberapa hal berikut.
1. Penetapan Rasulullah tentang berjamaah padanya
Penetapan beliau tampak dalam hadits Tsa’labah bin Abi Malik Al Quradli, dia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada suatu malam di bulan Ramadlan keluar dan melihat sekelompok orang shalat di sebelah masjid. Beliau bertanya : “Apa yang mereka lakukan ?” Seseorang menjawab : “Wahai Rasulullah, mereka adalah orang yang tidak bisa membaca Al Qur’an, Ubay bin Ka’ab membacakan untuk mereka dan bersama dia-lah mereka shalat.” Maka beliau bersabda : “Mereka telah berbuat baik” atau : “Mereka telah berbuat benar dan hal itu tidak dibenci bagi mereka.” (HR. Al Baihaqi 2/495 dan dia berkata : “Hadits ini mursal hasan.” Syaikh Al Albani berkata : “Hadits ini telah diriwayatkan pula secara bersambung/maushul dari jalan lain dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan sanad la ba’sa bihi karena ada hadits-hadits pendukungnya. Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnu Nashr di dalam Qiyamul Lail halaman 90 dengan riwayat Abu Dawud 1/217 dan Al Baihaqi)
2. Perbuatan Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Perbuatan beliau dalam hal ini disebutkan dalam beberapa hadits, yaitu dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Kami berdiri (untuk shalat tarawih) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada malam ke-23 di bulan Ramadlan sampai habis sepertiga malam pertama. Kemudian kami shalat bersama beliau pada malam ke-25 sampai pertengahan malam. Kemudian beliau shalat bersama kami pada malam ke-27 sampai kami menyangka bahwa kami tidak mendapatkan al falah (makan sahur) sampai kami menyeru untuk sahur. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushanaf 2/40/2. Ibnu Nashr 89. An Nasa’i 1/238. Ahmad 4/272. Al Firyabi dalam Ar Rabi’ wal Khamis min Kitabis Shiyam 1/440 dan berkata : “Pada hadits ini ada dalil yang jelas bahwa shalat tarawih di masjid-masjid kaum Muslimin termasuk sunnah dan Ali bin Abi Thalib selalu menganjurkan Umar radhiallahu ‘anhu untuk mendirikan sunnah ini sampai beliau pun mendirikannya.”)
Continue reading →